Tidak Boleh Tidur Panjang

Hal yang dilupakan ketika Presiden Soeharto berkuasa 32 tahun, sebenarnya isu utama rakyat Indonesia adalah pembagian yang tidak adil atas hasil kekayaan alam Indonesia.

Sistem ekonomi yang dibangun menuju kepada pemusatan kekuasaan ekonomi pada segelintir orang. Kita semua hanya puas ketika presiden diganti dan sistem politik lebih terbuka.

Sampai saat ini kita lupa bagaimana pengelolaan kekayaan nasional diatur.

Setelah reformasi privatisasi kekayaan nasional kita (kekayaan nasional kita dijual habis-habisan) justru membuka jalan kembali asing dan segelintir konglomerat yang dibesarkan orde baru menguasai lebih besar aset nasional kita.

Kita terus menonton dan sambil melihat partai-partai yang berkuasa berebut keuasaan kembali hanya untuk kekuasaan.

Cukup sudah 15 tahun setelah reformasi saudaraku.

Kita tidak bisa sabar lagi. Kita mesti bangkit bersama atau zaman akan menggilas kita semua. Kita menginginkan reformasi jilid II yang fokus pada pengembalian aset-aset nasional kepada rakyat melalui pemerintah yang bersih dan visioner, yang siap mengembalikan aset-aset nasional kepada rakyat dan membawa Indonesia menggapai peradaban.

Kita Nelayan, Petani, Buruh, PNS, ABRI, Dosen, Guru, Kyai, Pendeta, Biksu, Mahasiswa, Pelajar, Ibu Rumah Tangga, Pedagang Asongan, rakyat yang sudah mapan atau yang belum dan semua komponen rakyat, mempunyai kewajiban yang sama mengembalikan kekayaan nasional kita kepada rakyat.

Saudaraku, kita jangan mau lagi dikotak-kotakkan berdasar suku, agama, profesi, latar belakang budaya, pendidikan dll.

Kita semua adalah satu saudara, satu Indonesia bersatu meraih masa depan yang lebih cerah.

Musuh kita adalah meraka yang jahat yang menahan harapan rakyat ini. Biarkan mereka menertawakan kita, kita akan terus maju, sampai mimpi-mimpi kita menjadi nyata.

Rakyat Indonesia Tidak Bodoh

Saudaraku, izinkan kami untuk berbagi.

Tergambar dengan jelas di hadapan kita sebuah sistem jahat yang menjadikan kita terus menjadi budak di negeri sendiri. Puluhan tahun meraka meyakinkan kita, merekalah yang akan menyelesaikan problem kemiskinan dan ketidakadilan ini. Mereka berlagak orang kaya dan pintar yang meminjamkan uang kepada kita dan meraka yang mengurus kekayaan kita. Mereka menganggap bodoh rakyat Indonesia tidak bisa mengurus kekayaan kita sendiri.

Hasilnya apa saudaraku?

Indonesia negara kaya tetapi setiap bayi yang lahir dari ibu-ibu kita harus menanggung hutang yang tidak sedikit karena pajak yang dikumpulkan dari rakyat Indonesia terus menerus digunakan untuk membayar hutang dan bunganya yang tidak ada habisnya.

Kekayaan alam kita digadaikan, puluhan tahun kekayaan kita dikuras dan kita kebagian ampas dan rusaknya lingkungan. Kebanyakan pejabat dan politisi kita hanya berfikir bagaimana mempertahankan kekuasaan, mereka tidak tahu atau tidak mau tahu kekuasaan itu harus diabdikan.

Saudaraku, sampai kapan kejahatan ini akan terus berjalan? Pasti kita tidak rela keadaan ini terus terjadi. Pasti kita menginginkan keadaan ini berubah. Pasti kita menginginkan kekayaan nasional kita dan pajak yang kita kumpulkan dikembalikan kepada rakyat.

Optimis

Setiap hari kita melihat ketidakadilan, tetapi kita tidak melakukan apa apa.

Atau kita telah melakukan tetapi belum meruntuhkan bangunan sistem ketidakadilan.

Akhirnya kita frustasi dan membiasakan diri kita pasif dan pesimis terhadap keadaan.

Kita hanya mengeluh dan mengeluh apa yang terjadi di sekitar kita, tetapi keluhan kita tidak berefek terhadap perbaikan.

Kita melihat negeri kita dirampok tetapi kita hanya bisa mengeluh.

Tidak saudaraku.

Saatnya keluhan kita menjadi kebersamaan dan kekuatan yang nyata.

Saatnya kita bersatu dan tunjukkan sikap kita bersama dan fokus kepada tujuan kita.

Tidak ada satu kekuatan jahat pun yang bisa menahan kita.

Rakyat Indonesia harus menuliskan sejarah masa depannya sendiri.

Demi Ibu yang melahirkan kita, kita optimis menatap masa depan.

The Secret History Of The American Empire

“We are here to accomplish nothing short of saving this country from the clutches of communism. We all know how dependent our own country is on soil. Indonesia can be powerfull ally to us in that regard. So as you develop this master plan. Please do everything you can do to make sure that oil industry and all the others rhat serve it-port, pipelines, construction companies-get whatevwr they are likely to need in the way of electricity for the entire duration of this twenty five year plan.” (John Perkins)

Tanah Indonesia Untuk Siapa?

Saudaraku, luas wilayah daratan Indonesia sekitar 195 jt hektar, 95 juta hektar untuk kontrak Blok Migas, 42 jt hektar untuk blok Mineral Batu Bara, 9 jt hektar untuk blok HGU perkebunan besar, 32 jt hektar untuk HPH kehutanan.

Hitung sendiri luas wilayah daratan Indonesia yang dikuasasi korporat asing dan konglomerat lokal.

Tega betul penguasa ini, ya luas wilayah kita besar, tapi mungkin banyak saudara kita 1 meter persegi saja tidak punya.

Inilah salah satu alasan lahirnya Petisi Kedaulatan saudaraku.